Tuesday, 13 December 2016

DAHSYATNYA MAHALLUL QIYAM

ASSALAAMU'ALAIKUM....

Mahallul Qiyam adalah aktifitas yang ada dalam s kegiatan rutin mayoritas umat Islam Ahlussunnah dalam pembacaan kitab-kitab maulid nabi Muhammad  ﷺ, seperti *maulid Ad-Dhiba’, maulid, Al-Barzanji, maulid Simtuddhurar, maulid Adh-Dhiya’ullaami’,* dll.

Saat *Mahallul Qiyam* sedang berlangsung semua orang yang hadir dalam majelis tersebut, tua muda, laki-laki perempuan semua berdiri untuk memberikan penghormatan kepada shahibul Maulid, Nabi ﷺ sambil membaca qasidah madah (pujian kepada beliau SAW) dengan penuh kekhusu’an bahkan tidak jarang banyak air-air mata yang tumpah. Sulit untuk digambarkan bagaimana kekhusu’an, ketenangan, kedamaian, dan kenyamanan yang dirasakan dalam hati.

Abul Faraj Al-Halabi menjelaskan, berdiri yang demikian ini adalah bid’ah hasanah (hal baru yg baik).

ومن الفوائد أنه جرت عادة كثير من الناس إذا سمعوا بذكر وضعه صلى الله عليه وسلم أن يقوموا تعظيما له صلى الله عليه وسلم، وهذا القيام بدعة لا أصل لها: أي لكن هي بدعة حسنة، لأنه ليس كل بدعة مذمومة.

Termasuk faidah adalah kebiasaan banyak orang tatkala mendengar kisah kelahiran Nabi ﷺ mereka berdiri untuk memberikan penghormatan kepada beliau SAW. Berdiri ini adalah bid’ah yang tidak memiliki dasar, akan tetapi ini adalah bid’ah hasanah (bid'ah yang baik), karena tidak semua bid’ah itu tercela. [As-Sirah al-Halabiyah]

Di zaman Rasul SAW, beliau melarang seseorang untuk senang dipuji, suka dihormati dan gila hormat dengan mengharap orang lain berdiri untuk menghormatinya.
Dalam hadits utama disebutkan bahwa Muawiyah melarang orang-orang berdiri untuk menghormatinya seraya menyebutkan sabda Nabi SAW:
“Barangsiapa suka (mengharapkan) orang-orang berdiri untuk (menghormati)nya, maka hendaklah dia bersiap sedia dengan tempat duduknya di Neraka.”
[HR Ahmad]

Namun di satu sisi, Ketika Sa’ad bin Mu’adz RA mendekati pasukan kaum Muslimin, Rasul ﷺ berkata kepada kaum Anshar :

قُومُوا إِلَى سَيِّدِكُمْ أَوْ خَيْرِكُمْ

“Berdirilah untuk (menyambut) pemimpin kalian atau orang terbaik diantara kalian.
[HR Bukhari - Muslim]

Imam Nawawi mengomentari hadits ini :
فيه : إكرام أهل الفضل وتلقيهم بالقيام لهم إذا أقبلوا ، هكذا احتج به جماهير العلماء لاستحباب القيام

Dalam hadits ini terdapat anjuran untuk memuliakan orang mulia dan menyambutnya dengan berdiri. Begitulah mayoritas ulama memahami akan sunnahnya berdiri.
[Syarah Muslim]

Dengan menggabungkan dua keterangan yang seakan-akan kontradiktif di atas maka dipahami bahwa Rasul ﷺ mengajarkan kepada orang yang mulia untuk tidak gila hormat dengan merasa senang orang lain berdiri untuknya, namun di sisi lain Beliau mengajarkan bagaimana memberikan perhormatan kepada orang yang mulia sehingga yang terjadi adalah orang yang mulia tidak gila hormat sedangkan orang lain berdiri untuk menghormatinya tanpa diperintah dan dikehendaki olehnya (orang mulia tersebut).
Inilah keindahan ajaran islam jika dipahami secara proporsional dan seimbang antara dua sisinya.

Diriwayatkan bahwa suatu ketika Nabi berpapasan dengan para sahabat dan sahabatpun diam duduk, mereka tidak berdiri karena mereka tahu bahwa Rasul ﷺ tidak senang mereka berdiri. Namun seorang sahabat, Hisan RA berdiri untuk menghormati kedatangan beliau sambil mendendangkan syairnya :

قيامي للعزيز علي فرض :: وترك الفروض ما هو مستقيم
عجبت لمن له عقل وفهم :: يرى هذا الجمال ولا يقوم

Wajib atasku untuk berdiri menghormati orang mulia, sedangkan meninggalkan kewajiban adalah hal yang tidak dibenarkan. Aku heran dengan orang yang berakal dan memahami bahwa hal ini adalah baik (ahlak mulia) namun ia tidak berdiri.

Lalu Rasul membiarkan Hisan berdiri sebagai pertanda ikrar bahwa apa yang dilakukan oleh Hisan bukanlah hal yang salah karena itu adalah akhlak yg baik. Kemudian ini menjadi hujjah bagi ulama yang mengatakan :

إن مراعاة الأدب خير من امتثال الأمر

Menjaga tatakrama itu (dengan berdiri) lebih baik daripada melakukan perintah (duduk). [I’anatut Thalibin]

Abul Faraj Al-Halabi menyebutkan bahwa berdiri saat *mahallul qiyam* ini sudah dilakukan sejak dulu oleh orang yang alim, seorang panutan baik dalam ilmu agama dan sifat wara’nya, yaitu al-Imam Abdul Wahab bin Taqiyuddin 'Ali bin Abdul Kafy as-Subky atau biasa disebut dengan nama Imam As-Subki. (tahun 727 H / 1327 M - 756 H / 1355 M), Seorang ulama sekaligus qadli atau hakim Damaskus. Beliau pengarang kitab "Thabaqatusy Syafi'iyah al-Kubra, al-Wustha dan al-Sughra, Jam'ul Jawami', Al-Asybah wan Nadha'ir dll.

Abul Faraj Al-Halabi menulis : Al-
Imam As-subkiy berkumpul bersama banyak ulama di zamannya dan saat itu seorang munsyid membacakan puji-pujian untuk Nabi ﷺ karangan As-Sharshari ;

قليل لمدح المصطفى الخط بالذهب :: على ورق من خط أحسن من كتب
وأن تنهض الأشراف عند سماعه :: قياما صفوفا أو جثيا على الركب

“Sedikit sekali Tulisan bertinta emas di kertas (perak) untuk memuji Nabi itu dari penulis terbaik,
Sedikit sekali Orang-orang mulia berdiri tegap dengan berbaris ataupun berjongkok di atas kuda ketika mendengar pujian terhadap Nabi.”
lalu seketika itu al-Imam As-Subki Rahimahullah dan orang-orang yang hadir bersamanya sama berdiri, lalu datanglah “uns kabir” (ketenangan dan kesejukan hati) dalam majlis tersebut.
ويكفي مثل ذلك في الاقتداء

Dan cukuplah hal demikian sebagai acuan untuk diikuti. [As-Sirah al-Halabiyah]

Ada kisah menarik mengenai orang yang enggan berdiri saat maulid yang dikisahkan oleh Sayyid Alawi Al-Maliki dari ayah Beliau, Sayyid Abbas Al-Maliki. Bahwasanya suatu ketika beliau (Sayyid Abbas Al-Maliki) berada di Baitul Maqdis untuk menghadiri peringatan Maulid Nabi pada malam maulid, di mana saat itu dibacakan Maulid al Barzanji. Saat itu ada seorang lelaki tua beruban yang berdiri dengan khidmat penuh adab mulai dari awal sampai acara selesai. Kemudian beliau bertanya kepadanya akan sikapnya itu, yaitu berdiri sementara usianya sudah tua.
Sayyid Abbas Al-Maliki menuturkan jawaban Orang yang tua tadi:

ﺑِﺄَﻧَّﻪ ﻛَﺎﻥَ ﻟَﺎ ﻳَﻘُﻮْﻡُ ﻋِﻨْﺪَ ﺫِﻛْﺮِ ﺍﻟْﻤِﻴْﻠَﺎﺩِ ﺍﻟﻨَّﺒَﻮِﻱِّ ﻭَﻳَﻌْﺘَﻘِﺪُ ﺃَﻧَّﻪُ ﺑِﺪْﻋَﺔٌ ﺳَﻴِّﺌَﺔٌ ﻓَﺮَﺃَﻯ ﻓِﻲْ ﻧَﻮْﻣِﻪِ ﺃَﻧَّﻪُ ﻣَﻊَ ﺟَﻤَﺎﻋَﺔٍ ﻣُﺘَﻬَﻴِّﺌِﻴْﻦَ ﻟِﺎﺳْﺘِﻘْﺒَﺎﻟِﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﻃَﻠَﻊَ ﻟَﻬُﻢْ ﺑَﺪْﺭُ ﻣُﺤَﻴَّﺎﻩُ ﻭَﻧَﻬَﺾَ ﺍﻟْﺠَﻤِﻴْﻊُ ﻟِﺎﺳْﺘِﻘْﺒَﺎﻟِﻪِ ﻟَﻢْ ﻳَﺴْﺘَﻄِﻊْ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻡَ ﻟِﺬَﻟِﻚَ ﻭَﻗَﺎﻝَ ﻟَﻪُ ﺍﻟﺮَّﺳُﻮْﻝُ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺃَﻧْﺖَ ﻟَﺎ ﺗَﺴْﺘَﻄِﻴْﻊُ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻡَ ﻓَﻤَﺎ ﺍﺳْﺘَﻴْﻘَﻆَ ﺇِﻟَّﺎ ﻭَﻫُﻮَ ﻣُﻘْﻌَﺪٌ

bahwa dulu ia tidak mau berdiri pada acara peringatan Maulid Nabi dan ia berkeyakinan bahwa perbuatan itu adalah bid’ah sayyi’ah (jelek). Hingga suatu malam ia bermimpi dia bersama sekelompok orang yang bersiap-siap menunggu kedatangan Nabi Muhammad SAW, maka saat cahaya wajah beliau yang bagaikan bulan purnama muncul, semua orang tadi bangkit dengan berdiri menyambut kehadiran Rasulullah ﷺ namun ia (lelaki tua) tidak mampu bangkit untuk berdiri. Lalu Rasullullah ﷺ berkata kepadanya:

ﺃَﻧْﺖَ ﻟَﺎ ﺗَﺴْﺘَﻄِﻴْﻊُ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻡَ

“Kamu tidak akan bisa berdiri”
Saat ia bangun dari tidurnya ternyata ia dalam keadaan tidak mampu berdiri.
Hal ini ia alami selama 1 (satu) tahun. Kemudian ia pun bernadzar jika Allah menyembuhkan sakitnya ini ia akan berdiri mulai awal pembacaan Maulid Nabi sampai akhir bacaan. Kemudian Allah menyembuhkannya. Ia pun selalu berdiri (mulai awal pembacaan Maulid Nabi sampai akhir bacaan) untuk memenuhi nadzarnya karena ta’zhim (mengagungkan) beliau SAW. [Al-Hadyut tamm]

Wallahu A’lam.
Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk senantiasa taat dan patuh kepada Nabi ﷺ tanpa mengabaikan adab dan penghormatannya.

آمِیْنَ یَا مُجِیْبَ السَّائِلِیْنَ